TIKET PALSU BEREDAR SAAT AREMA MENJAMU HANOI T&T DI KANJURUHAN

are

Regulasi AFC, tampaknya membawa kerugian bagi panpel Arema, dalam laga lawan Hanoi T&T sore kemarin. Lho, bagaimana bisa? Tiket pertandingan Arema-Hanoi, yang menggunakan jenis lembaran, dipalsu oleh oknum tak bertanggungjawab.

Ketua Panpel Arema, Abdul Harris membenarkan hal ini. ‘’Kita mendeteksi adanya tiket palsu. Kita menemukan tiket ini bersama tiket-tiket yang asli. Sampai sekarang, kita masih hitung berapa sebenarnya jumlah tiket yang dipalsu,’’ terang Harris kepada Malang Post usai pertandingan.
Bisa jadi, tiket palsu inilah yang membuat Stadion Kanjuruhan penuh sesak sore kemarin. Tribun timur (papan skor), tribun selatan, tribun utara hingga tribun VVIP-VIP dijubeli suporter.
Dengan suporter yang memadati seluruh tribun, jumlah penonton seharusnya terhitung hingga kapasitas total Kanjuruhan, yakni 36 ribuan orang.

Tapi, secara hitungan portir, jumlah penonton Arema-Hanoi kemarin hanyalah 29.130. Hal ini dibenarkan Wakil Ketua Panpel, Eko Prasetyo, saat dikonfirmasi Malang Post. ‘’Jumlahnya 29.130 orang, dengan rincian 26.835 tiket ekonomi, 125 tiket VVIP dan 2.170 tiket VIP,’’ tegas Eko.

Nilai tiket ekonomi 26.835 dikali Rp 30 ribu adalah Rp 805.050.000. Lalu, tiket VIP 2.170 dikali Rp 100 ribu adalah Rp217.000.000 dan tiket VVIP 125 dikali Rp 150 ribu adalah Rp 18.750.000. Total, pendapatan kotor Arema adalah Rp 1,04 miliar. Padahal, bila melihat kapasitas stadion yang hampir penuh, yakni 36 ribu penonton, Arema bisa meraup Rp 1,3 miliar.

Praktis, Arema dirugikan sekitar Rp 260 juta. Jelas, pemalsuan tiket terjadi di Kanjuruhan sore kemarin. Ditambahi dengan dugaan tiket putar, panpel mencatat jumlah penonton yang tidak sesuai dengan yang terlihat di Stadion Kanjuruhan. Usut punya usut, ada oknum yang mencuri desain tiket, lalu menggandakannya tanpa sepengetahuan pihak panpel.
Pasalnya, sesuai regulasi AFC, tiket laga AFC Cup harus menggunakan tiket lembaran.

Lalu, desain tiket AFC juga harus dikirim satu bulan sebelum hari H pertandingan ke kantor pusat AFC di Kuala Lumpur. Hal ini memberi waktu bagi oknum internal untuk mencuri desainnya, serta menggandakan secara ilegal.
Karena dipaksa memakai tiket lembaran, panpel tak bisa menggunakan tiket gelang yang memangkas tingkat kebocoran di Stadion Kanjuruhan, sekaligus menghindari pemalsuan oknum. Media Officer Arema, Sudarmaji membenarkan bahwa tiket gelang tidak berlaku di AFC.

‘’Tiketnya ya lembaran, bukan tiket gelang. Sehingga mudah dipalsu dan diputar. Apalagi, desain sudah dikirim ke kantor pusat AFC satu bulan lalu,’’ terang Sudarmaji ketika dikonfirmasi Malang Post kemarin.
Pihak kepanpelan sedang melakukan pengusutan soal siapa sebenarnya oknum dalam yang memalsukan tiket. ‘’Kita sedang mengusut dan menyelidiki siapa yang memalsukan tiket ini,’’ tutup Harris.

Suka blusukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *