TES HIV / AIDS DI CAFE

aids

MALANG  Hujan masih terus menetes hingga siang hari membasahi kota Malang ketika para aktivis Ikatan Waria Malang (Iwama) menjalankan kegiatan pemeriksaan atau tes gratis di Cheese Bury Kopitiam, Senin (1/12/2014).

Entah karena kondisi hujan atau karena antusias masyarakat hari itu menurun, kegiatan tes gratis siang itu hanya diikuti 11 orang. Mereka yang melakukan tes merupakan pekerja dan pengunjung kafe.

“Memang kalau untuk tes di tempat umum tidak semua orang mau melakukan, tapi di kegiatan yang sama jumlah peserta tes juga hisa banyak, kadang bisa samoai 60 orang, tapi ya itu butuh kerja keras, kami perlu merayu-rayu,” ujar Viru Devana, Sekretaris Iwama di sela kegiatan.

Dalam kegiatan yang dilangsungkan untuk memperingati Hari AIDS sedunia itu Iwama bekerjasama dengan tim CVT (Voluntary Conseling and Testing )mobile dari RSI Unisma.
VCT adalah proses konseling pra testing, konseling post testing, dan testing HIV secara sukarela yang bersifat confidental dan secara lebih dini membantu orang mengetahui status HIV.

Ada empat orang tim dari RSI Unisma yang hadir dan siap memberi layanan di kafe siang itu. Tim terdiri dari dua konselor, satu petugas laboratorium dan satu Manager Kasus.

Karena mengambil lokasi di sebuah kafe, kegiatan yang dilakukan juga berlangsung santai. Para aktivis Iwama memberi penjelasan dan mengajak pengunjung kafe, khususnya yang beresiko untuk ikut tes gratis.

Pemeriksaan atau tes HIV yang dilakukan berupa rapid test. “Rapid test ini ringkas, cukup diambil darah sedikit di ujung jari nanti bisa diketahui hasilnya langsung, untuk hasil yang perlu didalami, kami bisa arahkan untuk tes lebih lebih lanjut,” ujar Ahmadi, petugas laboratorium RSI Unisma yang membantu di Cheese Bury Kopitiam.

Salah satu peserta yang melakukan tes HIV di kegiatan itu, Arga, mengaku tidak ragu ikut tes. Ia yang datang bersama keponakannya juga sekaligus mengajak saudaranya itu sekalian tes HIV.

“Saya sebenarnya sudah lama ingin tes, kebetulan tadi main ke sini ada tes gratis, ya saya langsung ikut,” ujar pemuda 22 tahun itu.

Ia lebih percaya diri setelah mengetahui cara tes yang tidak sakit. “Cuman dicocok pakai jarum di ujung jari, gak sakit. Tapi sekarang jadi lega sudah tahu hasilnya negatif,” ujar pemuda asal Polehan Malang itu.

Ia mengaku merasa perlu melakukan tes karena kebiasaanya melakukan tindik yang juga memiliki risiko tertular HIV.

Ia merasa PD melakukan tes di tempat umum karena merasa tidak tertular.Tapi ia juga merasa perlu memastikan.

“Sebenarnya banyak teman yang ingin tes karena berpeluang HIV tapi kebayakan gak tahu harus tes kemana dan takut bayar mahal, selain juga bingubg kalau nanyinya positif HIV harus bagaimana,” paparnya.

Fery Arianto, salah satu konselor dari tim CVT RSI Unisma menyebut peluang menarik minat masyarakat periksa atau tes HIV di area terbuka memang sedikit susah. Masyarakat yang berkeinginan periksa cenderung memilih mengikuti tes di klinik. Meski layanan CVT sama-sama disediakan tapi dengan periksa di klinik masyarakat yang memperoleh hasil positif tidak langsung berinteraksi dengan masyarakat luas.

“Kesadaran masyarakat dan inisiatif memeriksakan diri sendiri untuk tes HIV sudah terus meningkat. Di klinik mereka yang datang tes rata-rata bisa sampai 50 orang per bulannya,” kata Fery.

Kata Kunci :

  • tempat tes hiv di malang
  • tes vct di malang
Suka blusukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *