SUMBER AIR SONGGOriTI DITELITI

songoritu

BATU – Untuk membuktikan keajaiban tiga sumber mata air di Candi Songgoriti, pakar dari Universitas Brawijaya, Jumat (18/4) melakukan penelitian untuk mengungkap kebenaran mitos tiga sumber air itu. Dalam penelitian tersebut, Pusat Penelitian dan Peradaban melibatkan pakar tehnik, kesehatan, kimia, geologi, supranatural, dan pakar hukum.
Kordinator penelitian, Jazim Hamidi mengatakan, penelitian air panas dan dingin serta air warna hijau di bawah Candi Songgoriti, itu mata airnya memang berhimpitan namun ketiga jenis air itu tetap tidak bercampur. Itulah yang segera dibuktikan secara ilmiah tentang penyebab dan kandungan tiga jenis air itu sendiri.
Seperti diketahui, di bawah  Candi Songgoriti, menyembul tiga mata air yang berbeda. Satu sumber mengeluarkan air panas, satunya lagi air dingin dan sisanya air berwarna hijau. Anehnya, walaupun berhempitan namun tidak sampai bercampur, dan siapapun bisa melihat sekaligus merasakan ketiga jenis air itu.
”Secara supranatural dan cerita turun temurun memang begitu, namun harus kita buktikan secara ilmiah apakah betul dua sumber air tersebut tidak sampai bercampur,’’jelas Jazim ditemui di sela-sela penelitian, yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Peradaban UB.
Penelitian tersebut  memang diawali dari daerah Malang, entry poinnya adalah Singosari.  Makanya, pertama kali yang dilakukan penelitian adalah tiga sumber mata air Songgoriti, Panas, dingin dan sumber air berwarna hijau yang tidak saling bercampur antara satu sumber dengan lainnya.
Menurutnya, penelitian tersebut ditinjau dari multi aspek, baik itu dari aspek geologi, kimia, medis, herbal, bahkan aspek supranatural dan aspek pemerintahan. Semisal, kenapa selama ini orang-orang percaya minum air di bawah Candi Songgoriti bisa menyembuhkan penyakit dan menyehatkan tubuh.
”Kami ingin informasi komplit dari masyarakat, sehingga mereka tidak menjadi korban. Makanya kami ingin membuktikan secara ilmiah,”ujarnya kepada Malang Post.
Dia menambahkan, kebudayaan dan peradaban di tanah air ini memiliki nilai-nilai luhur yang sangat luar biasa. Ini masih di Songgoriti dengan tiga sumber mata air berbeda, belum lagi di Tumapel, Gunung Kawi dan mata air di Masjid Jami Kota Malang.
”Ayo kita angkat kembali kebudayaan luhur peninggalan nenek moyang kita itu, dan ini butuh keseriusan dari pemerintah. Jujur saja Candi Songgoriti kurang mendapatkan perhatian, padahal potensinya bila dikelola secara serius pasti banyak memberikan tambahan pemasukan kepada daerah,”papar dosen Hukum Tata Negara FH Unibraw ini.
Hasil penelitian di Songgoriti itu sendiri, masih menunggu dari tim peneliti yang membutuhkan waktu penelitian sekitar enam bulan.
Staf Laboratorium air tanah Jurusan Tehnik pengairan Unibrawa, Prasetyo menyebut, bahwa penelitian tersebut menggunakan alat bantu Weater Quality Multi Prooff.”Yang kami analisa dari kualitas air, kandungan mineral apa saja yang menyebabkan panas dan dingin air tersebut. Apa karena panas bumi atau kah kiriman dari gunung termasuk juga dari geologinya,”sebutnya.
Dia mengatakan, memang hasilnya belum bisa diketahui sekarang. Sebab, perlu diuji melalui laboratorium untuk dibuktikan asal usul dan kandungan air. Saat ini yang dibutuhkan hanyalah mengambil sample air, dan bila nanti dibutuhkan pihaknya juga akan meneliti tanah di sekitar candi itu untuk diuji di lab agar asal muasal air tiga jenis tersebut, bisa diketahui.

”Keterangan dari juru kunci candi, baru kali ini ada penelitian asal muasal air tersebut. Memang aneh, tiga sumber ini jaraknya tidak sampai 1 meter, namun kenapa jenisnya berbeda,”urainya.
Juri Kunci Candi Songgoriti,

khusus sumber air panas yang menyembul di bawah candi karya Empu Supo itu, kerap dijadakan sebuah pertana kondisi negara ini. Bila sumber air panas itu bergolak mendidih dengan sembulan melompat-lompat, diyakini kondisi negara ini sedang gunjang. Sebaliknya, bila sembulannya tenang maka situasi tanah air pun juga tak ada gejolak.

Suka blusukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *