SILATURAHMI TAK PANDANG KEYAKINAN

non muslim

Makna silaturrahmi di Hari Raya Idul Fitri tak hanya untuk umat Islam saja. Namun, silaturahmi di hari kemenangan itu juga berarti bagi umat nonmuslim. Lebih-lebih mereka yang hidup bertetangga.

Hal itu diungkapkan Prof Dr Syamsul Arifin Msi, dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat di temui di ruang kerjanya, Minggu (20/7) lalu.

Menurut dia, silaturahmi dalam Lebaran tidak bisa disekat oleh persoalan teologis atau keyakinan. Justru disaat Lebaran, yang harus ditonjolkan adalah unsur-unsur basariyah-nya. Yaitu unsur persaudaraan dan kekerabatan. ”Jadi jangan dicampuradukkan antara basariyah dengan teologi,” jelas dia.

Karena itu, dirinya menganjurkan agar umat Islam tidak pilih-pilih tetangga untuk dikunjungi dalam rangka silaturahmi saat Lebaran tiba. ”Kalau ada apa-apa, pasti tetangga lebih dulu yang membantu. Sekalipun itu nonmuslim,” lanjut Syamsul.

Jika umat Islam mampu menerapkan ini, maka Islam sebagai rahmatan lil alamin akan menemukan momentumnya. ”Islam akan dihargai sebagai agama perdamaian,” sambungnya.

Sementara Dr Moh Mahpur Msi, petinggi komunitas Gus Durian Kota Malang itu juga memiliki pandangan yang sama soal makna Idul Fitri bagi agama non-Islam. Menurut dia, justru momentum Lebaran menjadi sangat tepat untuk meningkatkan hubungan baik dengan umat non-Islam. ”Saat Lebaran, kita kan memang agendanya silaturahmi, keliling dari satu keluarga ke keluarga lainnya,” ujarnya.

Sehingga, hendaknya umat Islam yang memiliki keluarga nonmuslim, juga segera disambangi pada saat Lebaran. ”Tujuan kita tak lain memperpanjang persaudaraan dan hubungan sesama antarumat beragama,” tukas dia.

Suka blusukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *