Museum Perangko Indonesia TMII Jakarta

Museum Perangko Indonesia menempati sebuah bangunan berukuran cukup besar dan luas yang berada di dalam kompleks TMII (Taman Mini Indonesia Indah), Jakarta Timur. Bangunan museum dibuat menggunakan arsitektur bergaya Jawa Bali dengan gapura masuk berbentuk candi bentar serta pendopo besar luas beratap limasan di bagian depannya.

Ini sebenarnya adalah sebuah kunjungan sampingan, yang terjadi ketika menemani Olyvia Bendon melihat pameran Christie Damayanti yang kebetulan berlangsung di teras Museum Perangko Indonesia ini. Lantaran pintu museum terlihat terbuka, maka masuklah kami untuk mengintip koleksi museum yang pembangunannya diprakarsai Ibu Tien Soeharto.

Meskipun pemakaian perangko telah banyak tergantikan SMS, email, BBM, Whatsapp dan medsos, namun sampai tahun lalu PT Pos Indonesia masih mencetak tiga juta perangko setiap tahunnya. Adalah para kolektor dan penggemar filateli yang masih membeli dan menggunakan perangko untuk bertukar koleksi dengan teman mereka di luar negeri.

Pada 1906 jawatan pos di Hindia Belanda berubah menjadi Posts Telegraafend Telefoon Dienst atau Jawatan Pos Telegraf dan Telepon (PTT), dan pada tahun 1923 kantor pusatnya dipindahkan ke Kota Bandung dibawah Dinas Pekerjaan Umum (Burgerlijke Openbare Werker). Di jaman pendudukan Jepang, Jawatan PTT diambil alih bala tentara Jepang.

museum perangko indonesia tmii
Gerbang masuk candi bentar Museum Perangko Indonesia TMII terlihat di ujung sana, yang fotonya diambil dari tengah pendopo museum yang terbuka di keempat sisinya. Candi bentar adalah gerbang berbentuk tugu kembar khas yang bagian atasnya tidak bersambung. Jika gerbang bersambung di bagian atasnya maka disebut gapura paduraksa.

Di halaman Museum Perangko Indonesia terdapat tugu bola dunia. Di atasnya terdapat patung burung merpati membawa sepucuk surat, melambangkan pekerjaan Pos Indonesia yang melayani pengiriman kabar ke seluruh dunia. Pintu masuk ke ruang Museum Perangko Indonesia berhias suluran, dan tepat diantara pintu museum terdapat patung Hanoman.

Hanoman adalah raja kera yang menjadi duta Rama untuk berkirim kabar kepada Shinta yang tengah dikurung Rahwana di Kerajaan Alengka. Di atas patung Hanoman terdapat logo Pos Indonesia, dan di sebelah kanannya terdapat bus surat kuno dari jawatan pos di jaman kolonial yang keterangannya masih menggunakan bahasa Belanda, Brievenbus.

museum perangko indonesia tmii
Instalasi di Blok Penyajian I Museum Perangko Indonesia TMII yang berisikan Sejarah Perangko, termasuk bagaimana pengiriman kabar dilakukan pada jaman dahulu yang menggunakan daun lontar. Daun lontar dimasak lebih dahulu sebelum digunakan, dan untuk menulis digunakan pengutik. Contoh pohon lontar dan pengutik diperlihatkan di bagian ini.

Ketika masuk Museum Perangko Indonesia saya disambut perangko berukuran besar bergambar Ibu Tien Soeharto di tengah ruangan, dengan nominal 700. Ruangan museum bentuknya melingkar, dengan Blok Penyajian dari I – VI menyajikan diorama, peralatan pos, dan panel-panel miring yang berisi sejumlah koleksi perangko dari masa ke masa.

Ada contoh stempel pos jaman VOC, Daendels, Raffles (dalam bahasa Inggris), dan Hindia Belanda. Lalu ada miniatur Pedati Pos, Kuda Pos, Kereta Pos, dan Kapal VOC. Di atasnya ada foto Sir Rowland Hill (lahir 1795), Bapak Perangko Dunia yang mencetuskan gagasan pemakaian perangko sebagai tanda pelunasan biaya pengiriman surat.

Ada replika Penny Black, perangko pertama di dunia yang terbitkan 1840, foto Kantor Pos Batavia yang didirikan G.W Baron van Imhoff pada 26 Agustus 1746, perangko Hindia Belanda pertama yang terbit 1 April 1864 bergambar Raja Willem III, yang dirancang oleh JW Kaiser dari Amsterdam dan dicetak oleh Mint di Utrecht, Belanda.

Pada 27 September 1945 terjadi aksi pengambilalihan sepihak Kantor Pusat Jawatan PTT di Bandung oleh Angkatan Muda PTT (AMPTT) dari tentara Jepang, dan mengumumkan berdirinya Jawatan PTT Republik Indonesia. Tanggal itu kemudian diperingati sebagai Hari Bakti PTT atau Hari Bakti Parpostel. Kisahnya bisa dibaca di Museum Pos Indonesia.

museum perangko indonesia tmii
Di Blok Penyajian II Museum Perangko Indonesia diperlihatkan proses pembuatan perangko, menampilkan patung perancang perangko, lengkap dengan peralatannya. Ada pula silinder cetak perangko, pelat cetak perangko semasa revolusi, film positif, foto proses pembuatan perangko, dan contoh perangko di jaman republik yang pernah diterbitkan.

Blok Penyajian III Museum Perangko Indonesia berisi seri perangko periode perang kemerdekaan yang dicetak di Wina dan terbit 1948. Diantaranya perangko Peta Indonesia, Prajurit dan Danau Toba, Angkatan Perang dan Jenderal Sudirman, Ngarai Sianok, Sutan Syahrir dan Thomas Jefferson, dan banyak lagi. Harganya dari 1 sen hingga 80 sen.

Ada perangko cetakan Yogyakarta yang terbit pada 1 Juli 1947, perangko peringatan kembalinya pemerintah RI di Yogyakarta yang terbit 20 Juli 1949, seri peringatan kegagalam blokade Belanda, dan seri penembus blokade Belanda untuk pos udara. Di tengah blok terdapat lukisan peristiwa penurunan bendera di Hotel Majapahit Surabaya.

Diorama di Blok Penyajian V Museum Perangko Indonesia memamerkan koleksi perangko yang disusun berdasarkan tema, seperti kebudayaan, pariwisata, flora, fauna, lingkungan hidup, dan kemanusiaan. Sedangkan Blok Penyajian VI memamerkan perangko berdasar tema, seperti olah raga dan pramuka, dengan diorama kegiatan kepramukaan di tengahnya.

Masih di Blok Penyajian VI terdapat diorama dan panel terkait filateli yang bisa menjadi investasi jangka panjang dengan hasil mencengangkan. Salah satu perangko termahal di dunia misalnya adalah perangko Hindia Belanda pertama bertahun 1864, berstempel “Ngawi, Jawa Timur” dengan nominal 10 sen, yang konon dihargai hingga Rp 20 miliar.

Sepeda pos antik merk Falter buatan Jerman Barat tahun 1950 diletakkan di serambi Museum Perangko Indonesia. Sepeda ini lazim digunakan oleh jawatan pos di negara-negara Eropa dan Indonesia, sehingga dikenal sebagai sepeda pos. Populasi sepeda ini di Indonesia tidaklah banyak, kurang dari 100 buah, sehingga banyak diburu orang.

Museum Perangko Indonesia menjadi tempat bernostalgia bagi generasi yang dimasa remajanya belum mengenal sms, email, dan medsos. Perangko tidak boleh mati, karena bisa menjadi prasasti yang bercerita kepada publik berpuluh generasi kemudian, tentang banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh email, sms, dan komunikasi modern sejenisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *