MI TARIK MENGGUGAH SELeRA

Mie

Siapa yang tidak pernah merasakan kenikmatan olahan mi? Mi termasuk salah satu makanan favorit masyarakat dunia karena dapat dibuat dari beragam bahan serta diolah dengan berbagai macam bumbu.
Sejarah mencatat, mi kali pertama hadir di daratan Cina pada 2000 tahun lalu. Hingga kini, proses penyebaran mi sudah meliputi seluruh negara di dunia. Meski demikian, banyak yang mengungkapkan jika mi asal negeri tirai bambu masih menduduki peringkat pertama alias paling enak.

Salah satu mi yang sangat populer di Cina adalah Lamian. Dalam bahasa Indonesia, Lamin berarti mi tarik. Disebut mi tarik karena proses pembuatannya yang ditarik-tarik oleh tangan. Mi tarik sangat dikenal karena memiliki keunggulan dari sisi kesegarannya. Inilah yang kemudian diadaptasi oleh Canting Restaurant Atria Hotel and Conference Malang.
Sejak pertengahan Maret lalu, Canting Restaurant menghadirkan menu mi tarik pada daftar hidangan breakfastnya. Setiap harinya, menu mi tarik yang disajikan berbeda-beda. Mulai dari mi tarik dengan topping chasio chicken, daging lada hitam , hingga seafood. Penyajian mi tarik ini tak lepas dari kuah gurih yang disesuaikan dengan topping, antara lain kaldu ayam, kaldu sapi dan kuah tom yum.
Executive Chef Canting Restaurant Atria Hotel and Conference Malang, Dody Hermawan mengatakan, mi tarik atau Lamin ini menjadi idola di negara asalnya karena sangat sehat. Proses pembuatannya selalu dilakukan sesaat sebelum disajikan (fresh) dan yang terpenting bahan-bahan yang digunakan jauh dari bahan pengawet dan pewarna buatan.
“Untuk bahan, mi tarik hanya mengandalkan tepung, air, minyak dan sedikit garam sebagai penyedapnya. Setelah itu mi diolah dengan menggunakan tangan. Dengan bahan-bahan yang sederhana ini, mi tarik biasanya tidak akan bertahan lebih dari empat jam. Itu sebabnya, masyarakat di Cina sangat menggemari makanan ini,” ungkap Dody pada Malang Post.

Proses pembuatan mi tarik sendiri terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah pembuatan mi-nya sendiri, yakni yang dilakukan dengan dua proses. Proses pertama adalah membuat adonan hingga menjadi kalis dengan cara dikepang-kepang. Setelah cukup kalis, proses dilanjutkan dengan penarikan hingga membentuk helaian-helaian mi yang sangat lentur.
Menurut Dody, untuk mengetahui apakah mi tersebut sudah siap ditarik-tarik, dapat dilihat dari tekstur adonan. Jika saat ditarik tidak sobek, maka itu berarti adonan tersebut sudah siap. Proses ini biasanya dibantu dengan menggunakan minyak. “Tidak perlu direndam dengan minyak. Cukup diberi sedikit-sedikit saja,” sambungnya.
Setelah pembuatan mi selesai, maka proses dilanjutkan dengan tahap pemasakan. Agar bisa mendapat tekstur mi dengan sempurna, yakni kenyal, maka perebusan mi harus dilakukan di dalam air banyak yang sangat mendidih dengan api besar. Ambil mi secukupnya, lalu dimasukkan ke dalam panci. Begitu mi mengambang, langsung diangkat dan ditaruh di mangkuk dan dibumbui.
“Perebusan ini tak lebih dari 30 detik. Kalau merebus terlalu lama, testur mi akan jadi lembek. Makannya pun jadi kurang nikmat. Berbeda dengan perebusan mi instan yang bisa memakan waktu hingga dua menit,” papar chef ramah ini.

Suka blusukan

1 Comment

  1. Teresa

    September 20, 2014 at 1:34 pm

    I read a lot of interesting posts here. Probably you spend a lot
    of time writing, i know how to save you a lot of time, there is an online tool
    that creates readable, SEO friendly posts in seconds, just type in google
    – laranitas free content source

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *