MELUKIS DI ATAS PETI MATI

petii

BATU Media penyaluran bakat seni rupa tak harus di atas kain kanvas. Peti mati atau tempat menindurkan orang mati pun bisa dijadikan media yang menarik untuk menyalurkan bakat dalam melukis. Seperti halnya karya dengan judul Koffin yang disuguhkan, Asykur Ibadurrohman, perupa dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya.

Karya dlukisnya itu dibuat di atas peti mati yang berukuran satu meter, itu mengingatkan akan kepastian datangnya kematian bagi setiap orang. ”Setiap orang akan mati, tinggal mengisinya dengan kebaikan atau keburukan,” kata Asykur Ibadurrohman, di sela-sela penyelenggaraan di Galeri Raos, Kota Batu, Sabtu (15/11) malam.

Karya Asykur Ibadurrohman ini menjadi karya yang paling menonjol di antara 75 karya seni rupa yang dipamerkan di gelarei ini. Hal itu bukan saja dikarenakan penempatannya di bagian tengah tempat pameran, tapi juga penggunaan medianya tidak seperti pada umumnya media seni rupa. Media peti mati yang diberdirikan itu, terlihat seperti batu nisan atau batu penanda kuburan.

Pameran seni rupa yang mengusung tema Rekonsiliasi itu digelar oleh mahasiswa  Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya. Puluhan karya itu disuguhkan 20 perupa mulai Sabtu (15/11) sampai Jumat (21/11) mendatang.

Selain karya Asykur Ibadurrohman, juga terdapat sejumlah karya seni rupa lain yang cukup menarik. Seperti halnya pada sejumlah karya lukis dalam lukisan rajut. Sejumlah gambar ekspresi wajah manusia dilukis menggunakan rajutan benang warna warni. “Disini para seniman menuangkan idealismenya, pemikiran, dan sikap saling terbuka terhadap dasar perbedaan tehnik antara yang satu dengan yang lain,” beber Jimmy Alegada, ketua Panitia Pameran Seni Rupa Rekonsiliasi 2014.

 

Kata Kunci :

  • asykur ibadurahman
Suka blusukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *