KEUNIKAN DESA PENIWEN MALANG

peniwen

Desa Peniwen dikenal sebagai pusatnya agama Kristen di Kabupaten Malang. Namun, penampilan para pemeluk kristiani tersebut nyaris sama dengan muslim di daerah lainnya. Mereka menggunakan kopiah hitam, sebuah penutup kepala yang biasanya digunakan muslim untuk salat.

***

Saat menelusuri Desa Peniwen yang masuk kawasan Kecamatan Kromengan, tim Jelajah Ramadan menyempatkan diri untuk bertemu dengan kepala desanya yang bernama Sih Utama. Saat menemui tim dari Jawa Pos Radar Malang, Sih yang merupakan penganut Kristen taat tampil dengan pakaian batik dan kopiah hitam.

Sih menyatakan, warga Peniwen dari dahulu hingga saat ini memang terbiasa menggunakan kopiah hitam. Bahkan, saat ada acara desa atau momen-momen penting di Peniwen, tokoh agama dan pejabat desa setempat mayoritas menggunakan kopiah hitam.

Terus terang, tim Jelajah Ramadan sempat terkecoh. Kami menyangka bahwa yang mengenakan kopiah hitam tersebut merupakan muslim. Namun, saat kami tanya, mereka ternyata pemeluk Kristen. Tak ada satupun yang muslim. Maklum, di desa ini, dari total jmlah penduduknya yang 3.618 jiwa, hanya sembilan orang yang muslim. Jadi sangat sulit menemukan muslim di Peniwen.

Saat ada acara Bersih Desa pada 30 Juni lalu, sejumlah pria di desa yang lokasinya berjarak sekitar 15 kilometer dari Kepanjen tersebut mengenakan kopiah. Para pengguna kopiah ini ada yang berperan sebagai penerima tamu atau pejabat desa.

Ternyata, kebiasaan memakai kopiah hitam di Peniwen sudah berjalan bertahun-tahun. Bahkan, saat desa ini didirikan pada abad ke 18, mereka sudah menggunakan kopiah sebagai identitasnya. Sih Utama mengatakan, mengenakan kopiah hitam di Peniwen merupakan simbol bahwa orang tersebut sudah dewasa. ”Tidak ada syarat untuk bisa memakai kopiah hitam. Tapi kopiah ini menunjukkan bahwa orang yang sudah dewasa memakai kopiah ini,” imbuh Sih sambil menunjuk ke arah kopiahnya.

Sih juga menolak kalau kopiah hitam identik dengan umat muslim. Menurutnya, kopiah hitam bersifat umum dan bisa dipakai oleh siapapun, terutama dalam acara-acara resmi. ”Ini kopiah umum. Semua orang dari berbagai agama bisa memakainya,” tambah dia.

Dia menyatakan, selama ini, hubungan antarpemeluk agama di Peniwen sangat berjalan harmonis. Tak ada gesekan yang berarti. Karena itu, umat muslim yang minoritas juga kerasan tinggal di Peniwen. Bahkan, warga pendatang yang mendirikan Panti Asuhan Ar Rahman untuk umat Islam, juga bisa hidup berdampingan dengan warga kristiani. Bahkan, saat panti asuhan membangun sebuah masjid, warga Peniwen juga mengijinkan berdirinya tempat ibadah muslim tersebut.

Kristen bisa berkembang pesat di peniwen, karena desa ini awalnya memang didirikan oleh Pendeta Sangkius Kasanawi beserta 19 orang temannya pada 1880 lalu. Mereka mendirikan perkampungan yang awalnya hutan belantara.

Sedangkan untuk perkembangan umat Islam di Peniwen, Sih mengatakan bahwa semua agama boleh bebas berkembang di Peniwen. ”Meskipun untuk agama lain, hingga saat ini masih belum banyak pengikutnya,” imbuhnya.

Selain rasa Kristen yang kental, di Peniwen terdapat Monumen Palang Merah Remaja (PMR). Monumen ini untuk mengenang sepuluh relawan PMR yang gugur di medan perang melawan Belanda pada 1949. Selain dua patung tegak berdiri, juga terdapat makam sepuluh relawan yang dikenang di monumen ini.

Bahkan, pada tahun 2012 lalu, Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla pernah berkunjung ke monumen ini. Sih mengklaim kalau monumen ini merupakan monumen PMR satu-satunya di Indonesia. ”Monumen ini juga salah satu kebanggaan kami,” pungkasnya.

Sih menambahkan, Peniwen merupakan salah satu desa di Kabupaten Malang yang dikenal memegang teguh adat mereka. Tidak hanya menghormati tetua mereka dengan kopiah, ada tiga acara adat yang selalu mereka rayakan secara besar-besaran. Ketiga adat itu adalah adat Bersih Desa yang dilakukan setiap 30 Juni. Selain itu, ada acara yang mereka sebut Malam Tirakatan yang dilaksanakan setiap malam 17 Agustus. ”Malam tirakatan ini untuk mengenang para leluhur kita,” tambahnya.

Terakhir adalah Adat Kelaman yang dihelat setiap 30 Oktober. Adat ini bertujuan agar Tuhan senantiasa memberikan air hujan di Peniwen. ”Kalau tanggal segitu sudah musim hujan, kita minta hujan yang cukup,” jelasnya. Dari ketiga adat istiadat ini, karena mayoritas beragama kristiani, maka adat istiadat Peniwen selalu ada doa-doa Kristen. ”Seperti adat desa, jadi perangkat desa dan pendeta gereja diarak dari gereja ke balai desa, lalu kita berdoa bersama,” pungkasnya

 

Kata Kunci :

  • desa peniwen
  • kristen malang
  • desa mayoritas kristen di jawa
  • desa kristen di malang
  • kristen di malang
  • kampung kristen di jawa
  • peniwen malang
  • Wisata peniwen
  • desa mayoritas kristen
  • desa kristen di malang raya
Suka blusukan

1 Comment

  1. hari

    February 17, 2015 at 7:31 am

    desa kelahiranku ini…..merdeka (putra mulyono)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *