Cerahnya Peluang Bisnis Dompet Kulit

dompet_kulit

Meskipun demikian, semakin banyak pemainnya, bukan berarti peluang pasarnya semakin menipis, malah pasarnya cenderung terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Hal itu yang membuat Faradiani tetap memberanikan diri untuk terjun dalam bisnis pembuatan dompet berbahan kulit sapi asli. Namun, tak sekadar dompet pria biasa yang dia tawarkan, tetapi dia melayani pembuatan dompet dengan desain sesuai keinginan konsumen.

Melalui merek Rex Allen Leathercraft dia memasarkan produk buatannya secara online sejak 2011. Namun, karena sibuk untuk mengurus tugas akhir kuliah, usahanya tersebut sempat vakum dan mulai berjalan lagi pada awal 2015.

Fara mengakui memilih dompet sebagai produk buatannya karena lebih mudah dikerjakan. Semua produk kulit buatannya dikerjakan secara manual oleh tangannya sendiri.

“Awalnya sempat mikir produk apa yang bisa mudah dibuat dan sederhana, kemudian terpikit untuk buat produk kecil-kecil seperti dompet,” katanya.

Dalam sehari, Fara bisa menyelesaikan pembuatan sebuah dompet di tengah-tengah kesibukannya sebagai karyawan di sebuah perusahaan di Jakarta. Meski demikian, dia menetapkan kisaran waktu pengerjaan produk sekitar satu pekan kepada konsumen.

“Konsumen bisa menghubungi kami dan mengajukan desain dompet yang diinginkan. Tetapi, kebanyakan tidak meminta desain dompet yang aneh dan lebih memilih desain yang biasa,” katanya.

Semua dompet pria yang diproduksinya dijual dengan harga Rp250.000 per buah, baik itu dompetready stock maupun dompet pesanan konsumen.

Setiap dompet yang dibuatnya itu diproduksi dengan desain dan jumlah yang terbatas. Selain untuk menciptakan desain yang lebih variatif, hal itu juga dikarenakan pasokan kulit dari pemasok juga seringkali terbatas.

Fara memaparkan setiap satu lembar bahan baku kulit sapi bisa digunakan untuk memproduksi sekitar 10 buah dompet. Sementara itu, satu lembar kulit sapi impor yang telah disamak didapatkan dari pemasok dengan harga sekitar Rp400.000.

“Jika dihitung perbandingan antara harga jual dan ongkos produksi, margin keuntungannya bisa mencapai 100%, tetapi hal itu tergantung harga kulit sapi yang fluktuatif mengikuti pergerakan nilai tukar rupiah,” katanya.

Oleh karena itu, margin keuntungan perempuan asal Bandung itu sempat tergerus cukup dalam saat nilai rupiah melemah terhadap dolar belakangan ini. Dia juga mengaku dari dulu hingga sekarang belum bisa mengerek harga jual untuk mempertahankan margin keuntungan tersebut.

“Saya belum berani pasang harga yang terlalu tinggi, karena merupakan pemain baru, jadi masih menjadikan harga jual yang lebih murah sebagai daya tarik dibandingkan dengan produk serupa,” katanya.

Selama ini, produk yang menjadi favorit konsumen adalah dompet dari bahan kulit sapi dengan teknik pewarnaan nabati. Yakni, warna kulit yang natural tetapi akan berubah semakin lamanya penggunaan barang.

“Banyak pria yang mencari momen perubahan warna dari kulitnya itu, karena semakin lama warnanya akan semakin tua dan teksturnya semakin halus,” katanya.

Ke depannya, Fara tetap optimistis bisnis yang dijalankannya akan tetap berkembang meskipun persaingan di bisnis serupa semakin ketat. Dia mengatakan, hal ini disebabkan banyak pria yang menjadikan produk-produk berbahan kulit itu sebagai hobi dan koleksi.

“Dari dulu produk-produk berbahan kulit itu memang terlihat mahal dan eksklusif, jadi peminatnya cukup banyak dan pasarnya sudah terbentuk,” ujar perempuan berusia 24 tahun ini.

Adapun, strategi yang dilakukan untuk tetap mendapatkan konsumen adalah dengan rajin memperbarui iklan produknya di berbagai situs jual beli online. Pasalnya, jika dalam beberapa hari tidak ada update, maka permintaan akan menurun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *