BELAJAR MENGUBAH KULIT PISANG MENJADI DAYA LISTRIK

pendidikan

MALANG- Delia Hani W dan Adinda Nabila A siswa SMPN 3 Malang menyulap baterai bekas dan berfungsi seperti baru lagi. Dari penelitian yang dilakukan, mereka berhasil menambah energi pada baterai tersebut hanya dengan memanfaatkan kulit pisang. Baterai pun bisa bertahan hingga sekitar lima hari.
Kepada Malang Post Delia Hani W mengatakan jika karyanya ini bermula dari keingintahuan terhadap bahan-bahan yang ada didalam baterai. Sehingga, beberapa kali mencari referensi dari internet.

“Bahan yang digunakan untuk baterai ternyata dari kulit jeruk, karena kulit jeruk mengandung asam. Oleh karenanya, kami mencoba hal baru dengan bahan yang juga memiliki kadar asam, seperti kulit pisang,” kata Delia ditemui di sela acara di UM, Rabu (27/8) kemarin.
Menurutnya, Pisang ambon lebih bagus dan memiliki kadar asam yang cukup banyak. Kulit pisang tersebut, lalu dicacah atau dipotong-potong dengan ukuran kecil. Setelah itu, dalam keadaan basah dimasukkan kedalam baterai.
Sebagaimana diketahui, lanjutnya, di dalam beterai sendiri, terjadi sebuah reaksi kimia yang menghasilkan elektron. Kecepatan dari proses ini (elektron, sebagai hasil dari elektrokimia) mengontrol seberapa banyak elektron dapat mengalir diantara kedua kutub. Baterai merupakan sebuah kaleng berisi penuh bahan-bahan kimia yang dapat memproduksi electron. Reaksi kimia yang dapat menghasilkan electron disebut dengan Reaksi Elektrokimia.

“Jika kita memperhatikan, kita bisa lihat bahwa batrei memiliki dua terminal. Terminal pertama bertanda Positif (+) dan terminal Kedua bertanda negatif (-),” jelasnya.
Menurutnya, baterai berukuran kecil memiliki daya sekitar 1,5 volt, jika dibandingkan dengan baterai yang didalamnya diisi bahan dari kulit pisang yang dengan daya 1,1 volt.

 

”Inovasi yang kami buat ini belum sempurna, dan rencananya penemuan ini akan diikutsertakan dalam Karya Ilmiah Remaja (KIR). Untuk menghasilkan daya listrik cukup dengan kulit pisang, tidak dicampur dengan bahan lainnya, ” ujar siswa kelas akhir itu.
Hasil inovasi ini lantas diujicobakan kepada jam dinding. Dan hasilnya sempurna, jarum jam mulai berputar seperti baterai pada umumnya. Akan tetapi, baterai dengan bahan kulit pisang ini belum diujicobakan pada radio maupun remot control (TV, AC dan lainnya). “Kami belum teliti lebih jauh, sementara ini hasil inovasi kami, saat dicoba terhadap jam dinding dapat bertahan selama lima hari,” terang Adinda sembari mempraktekkan cara memasukkan bahan-bahan itu.
Kasek SMPN 3 Malang Burhanuddin mengaku bangga atas hasil inovasi dan kreatifitas siswanya. Pasalnya, dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah didapat, dapat membuat baterai. Meskipun saat ini hasil kreatifitas siswanya ini belum dipatenkan. “Masih mau diikutsertakan dalam kontes KIR, kalau tembus hingga nasional nanti dapat dibiayai oleh pemerintah,” akunya.

Pria yang juga ketua MKKS SMPN itu menambahkan, inovasi seperti ini dapat membawa angin segar terhadap dunia tehnologi. Pasalnya, tidak hanya menggunakan bahan-bahan kimia untuk mengaktifkan baterai. Cukup dengan kulit pisang (mengandung asam) sudah dapat difungsikan lagi.

 

Kata Kunci :

  • cara membuat batrei dari kulit pisang
  • cara membuat penemuan listrik ilmiah
  • kir listrik
  • KIR tentang listrik
Suka blusukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *