AKSI PENOLAKAN PENJUALAN SATWA LIAR DI MEDIA SOSIAL

monyet

MALANG  Kawasan di sekitar Alun-Alun Tugu Kota Malang kemarin (3/3/15) berubah jadi panggung hiburan. Perhatian para pengendara yang lewat beralih, ketika melihat ada dua badut kera datang, melompat-lompat dan bergoyang ria di pinggir jalan. Keduanya melompat, sambil membawa papan bertuliskan “Facebook: Serious About Wildlife Crime”.

Keduanya juga, berlagak bak kera yang sedang teraniaya. Lantaran, kawan-kawannya diperdagangkan secara liar. Mereka berputar-putar kebingungan, menyapa siapa saja yang lewat disana, sampai tidur-tiduran di jalanan. Semua itu dilakukan untuk menyuarakan kegelisahannya terhadap pengguna media sosial (Medsos) nakal yang tega menjual kehidupan para satwa langka di Indonesia.
Ada bayi Orang Hutan, Kuskus Beruang, Tarsius, sampai Monyet Hitam Sulawesi. Mereka semua adalah sebagian dari 28 jenis satwa dilindungi yang pernah diamankan aparat kepolisian dalam operasi dan penegakkan hukum berkurun waktu 2012-2015. Si badut kera, beserta kawan manusianya dari komunitas peduli satwa Animals Indonesia, geram karena satwa-satwa liar ini diperdagangkan secara liar melalui Medsos.

“Operasi tersebut, mengamankan 65 ekor satwa dari 28 jenis spesies langka, termasuk bayi Orang Utan. Mereka dijual seharga Rp 50 juta,” ujar juru kampanye Animals Indonesia, Elizabeth Laksmi. 
Bahkan, kata Elizabeth, ada beberapa pedagang yang memiliki jaringan internasional untuk jual beli satwa Indonesia. Ini meresahkan bagi Animals Indonesia, karena itulah mereka berkampanye di Alun-Alun Tugu Kota Malang, kemarin siang. “Mudahnya menggunakan facebook sebagai alat komunikasi, menjadikan Medsos paling sering digunakan untuk penjualan satwa,” tambahnya.
Sudah mudah digunakan, kata Elizabeth, Medsos juga sulit dilacak. Butuh waktu 6 bulan sampai 1 tahun untuk bisa mengungkap penjual satwa liar di Medsos. Pendekatan yang dilakukan, tidak semata-mata pendekatan singkat. Pedagang, harus percaya kalau si pelacak ini adalah klien dia sesungguhnya. “Makanya, sulit sekali sekarang. Polisi juga kesulitan,” ujar Elizabeth.

“Yah, kami harap kampanye ini sampai ke masyarakat dulu. Setidaknya masyarakat tahu, jangan sampai ada yang membeli satwa liar di facebook,” lanjutnya.
Aksi serupa juga dilakukan di Yogyakarta kemarin. Selain dari Animals Indonesia, aksi damai juga diikuti Center for Orang Utan Protection (COP). Dengan aksi tersebut, komunitas peduli satwa berharap, eksploitasi satwa liar di Indonesia segera tuntas. “Kalau di Malang sampai sekarang belum ada. Tapi, kami akan tetap telusuri,” pungkas Elizabeth.

 

Suka blusukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *