3 Alasan Virtual Reality Dapat Mengubah Dunia

Virtual Reality

Kehadiran sejumlah produk virtual reality headset (VR headset) dari beberapa perusahaan teknologi di tahun ini, membuat 2016 secara tak langsung disebut sebagai tahun kebangkitan VR.

Kendati masih dalam tahap awal, nyatanya tak sedikit pihak yang optimistis terhadap perkembangan VR di masa depan.

Salah satu yang menjadi alasan VR disebut akan mengubah cara dunia berinteraksi, teknologi ini disebut akan merevolusi cara manusia bermain, hidup, dan mempelajari sesuatu.

Beberapa analis bahkan memprediksi penggunaan dan pembelian perangkat VR akan mencapai puncaknya, lima tahun mendatang. Digi-Capital memperkirakan nilai pasar VR mencapai US$ 30 miliar pada 2020.

Prediksi tersebut jelas bukan tanpa alasan, sebab nyatanya tahun ini beberapa perusahaan sudah mulai memasarkan perangkat VR besutannya, seperti yang dilakukan Oculus dengan Rift. Selain Oculus, HTC, dan Sony juga memastikan diri akan merilis VR kelas high-end dalam waktu dekat.

Hal sama juga dilakukan oleh Google dengan merilis VR headset sederhana, Google Cardboard, beberapa tahun lalu. Raksasa mesin pencari tersebut juga diketahui mulai serius menggarap VR dengan membentuk divisi khusus VR di awal tahun ini.

Keadaan itu kemudian menimbulkan pertanyaan, mengapa VR digadang-gadang sebagai teknologi yang dapat mengubah dunia? Dan, banyak perusahaan yang berlomba untuk mengembangkan teknologi tersebut.

Untuk itu, merangkum informasi dari laman Time, Selasa (29/3/2016), tim Tekno Liputan6.com mengupas soal alasan teknologi VR dapat mengubah dunia di masa depan.

1. Mengubah Cara Manusia Bermain Game

Tak dapat dipungkiri, perangkat VR pertama kali didesain untuk menyasar gamer kelas berat dan penggila gadget. Hal tersebut bukannya tanpa alasan, sebab meskipun dibanderol dengan harga mahal, penggila gadget atau gamer ingin menjadi yang pertama mencoba sebuah perangkat baru.

“Kami berpikir bagaimana VR dapat mempengaruhi pengalaman teman-teman lain yang bermain game,” ujar CEO Oculus Brendan Iribe.

Untuk itu, di awal perilisannya, Oculus sudah menyiapkan 30 judul gim yang dapat diunduh oleh pengguna awal Oculus Rift.

Gim memang salah satu konten andalan yang ditawarkan perangkat VR. Bagaimana tidak, dengan perangkat VR pengguna dibuat seolah-olah berada langsung dalam sebuah permainan.

Di samping itu, dengan tambahan kontroler yang didesain khusus, perangkat VR dapat mengubah pengalaman bermain gim menjadi lebih nyata. Salah satunya ketika bermain gim panahan, pengguna dapat merasakan sensasi bergetar layaknya sedang melepas anak panah yang berasal dari kontroler khusus.

2. Mendukung Kegiatan Edukasi dan Terapi

Saat ini beberapa museum disebut sudah memakai perangkat VR untuk menawarkan pengalaman baru menjelajah masa lalu. Salah satunya dilakukan oleh British Museum di London, London Natural History Museum, dan American Museum of Natural History.

Melalui VR, pengunjung museum dapat diajak berinteraksi langsung dengan berbagai model objek 3D yang digunakan di masa lalu. Selain itu, penggunaan VR diharapkan dapat menunjang cara anak-anak belajar mengenai sejarah.

Di samping itu, VR nyatanya juga dapat digunakan untuk mendukung keperluan terapi seseorang yang memiliki rasa gelisah berlebihan. Adalah Xavier Palomer Ripoll seorang terapis yang memanfaatkan hal tersebut.

Ia mendorong kliennya mengatasi rasa gelisah dengan memberikan gambaran sebuah kondisi yang dibenci menggunakan perangkat VR.

Selain Ripoll, Jeremy Bailenson dari Stanford University juga memakai VR untuk mendukung penelitian psikologi yang berkaitan dengan penyelesaian hal-hal yang ditakutkan seseorang.

3. Hadirkan Konten Video yang Lebih Kaya

Dengan dukungan video 360 derajat, jelas VR dapat menawarkan dukungan konten video yang lebih kaya dibandingkan generasi sebelumnya. Kreator video dapat membuat sebuah konten dengan kondisi begitu nyata, sebab semua sudut berhasil direkam.

Inovator yang memanfaatkan hal ini adalah Felix Lajeunesse dan Paul Raphael. Keduanya bahkan berhasil mendirikan studio sendiri setelah Oculus tertarik dengan konten video buatan mereka mengenai suku di Mongolia.

Tak hanya itu, perusahaan produksi besar, seperti Universal Pictures juga memakai jasa mereka untuk membuat sebuah konten video mengenai Jurassic World yang akan ditampilkan di sebuah festival.

Namun, tidak semua kreator film setuju dengan anggapan bahwa VR mampu menampilkan hal yang lebih baik. James Cameron, kreator Avatar, Titanic, dan Terminator sempat menuturkan bahwa VR tak akan berpengaruh besar pada perhatian penonton.

Ia juga menuturkan, VR bukanlah medium yang dibutuhkan oleh pembuat film.

sumber : www.tekno.liputan6.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *